UNTAG Surabaya Implementasikan Kesetaraan Gender
Pusat Studi Gender Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas 17 Agustus (LPPM UNTAG) UNTAG Surabaya mengadakan Training of Trainer (ToT) yang mengusung tema “Gender Equality”. Wakil Rektor 1-Dr. Ir. Muaffaq A. Jani, M.Eng., turut hadir membuka acara tersebut. Dalam sambutanya ia mengatakan, “Kesetaraan gender merupakan isu global dan nasional yang perlu kita cermati. Diperlukan pula implementasi yang sesuai dengan norma di bidang pendidikan. Di dunia pendidikan rentan terjadi sexual harrasment. Misalnya dosen menggoda dan mengelus tangan mahasiswi saat bimbingan.” Menurut Muaffaq, dengan pusat studi gender ini UNTAG Surabaya bisa mensejajarkan diri dengan perguruan tinggi besar melalui kepedulian pada kesetaraan gender.
ToT ini merupakan implementasi kerjasama UNTAG Surabaya dengan EQWIP HUBs Canada yang telah berjalan selama 5 tahun. Ketua Panitia-Wiwik Afifah, SH., MH. menuturkan bahwa ToT merupakan upaya UNTAG Surabaya menjalankan misi ke-4 secara penuh. “Dalam misi tersebut tersirat bahwa setiap civitas akademika harus memiliki moral dan karakter yang berkeadilan dan setara. UNTAG Surabaya juga memiliki keadilan dan kesetaraan. Adanya kesetaraan bagi dosen, pegawai dan mahasiswa. Perlu langkah konkrit, salah satunya pelatihan ini.” Wiwik berharap melalui pelatihan sejenis akan lahir gender vocal point yang merealisasikan kesetaraan gender dan menghargai perbedaan.
Bertempat di Ruang I 205 Gedung Pascasarjana lantai 2, ToT diikuti oleh tenaga kependidikan UNTAG Surabaya. Begitu pentingnya kesetaraan gender, Miriam Zia menyebutkan bahwa isu tersebut telah masuk dalam Sustainable Development Goals Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Gender Equality Officer EQWIP HUBs Canada ini menerangkan bahwa equality dan equity merupakan dua hal berbeda di mana equality berarti persamaan, sedangkan equity berarti pemerataan. “Kesetaraan gender berkaitan dengan kemanusiaan, bukan hanya mengenai perempuan saja melainkan juga laki-laki. Laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan, hak dan kewajiban serta tanggung jawab yang setara. Kesetaraan juga bukan hanya mengenai gender, melainkan juga kelompok minoritas, misalnya penyandang disabilitas.”
Materi tentang Kesetaraan Gender dalam Dunia Pendidikan disampaikan oleh Dra. Sri Andayani, MM., yang mengatakan bahwa pemahaman individu tentang peran dan tanggung jawab gender dipengaruhi oleh konstruksi sosial dan budaya. “Seks mengacu pada biologis dan kodrat, tidak bisa diubah. Sedangkan gender itu mengacu pada dimensi sosial-budaya yang bergantung pada perubahan zaman.” Lebih lanjut Sri menjelaskan bahwa gender menjadi masalah ketika terjadi ketika salah satu jenis kelamin dirugikan, dibedakan derajatnya, dianggap tidak mampu dan diperlakukan lebih rendah. Senada dengan judul materinya, dia menyarankan, “Dalam dunia pendidikan melalui pendekatan pembelajaran gender yang responsif. Harus ada kurikulum yang menjamin laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama. Bagi perguruan tinggi melalui implementasi pengabdian masyarakat berperspektif gender.”
Sementara itu Irmashanti Danadharta, S.Hub.Int., MA., membahas dari maraknya kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan civitas akademika. “Pelecehan dan kekerasan terjadi dalam berbagai bentuk. Guyonan yang terjadi berulang kali bisa memicu kekerasan psikis. Kekerasan seksual bukan hanya pemerkosaan, misalnya mengirimkan foto perempuan itu sudah masuk sexual harrasment. Stalking ketika hingga menyebabkan kerisihan dan ketidaknyamanan juga masuk,” terangnya. Irmashanti menutup materinya dengan sebuah kata bijak tentang kesetaraan gender, “Satu gelas empati, dua sendok teh hormat, sedikit keadilan dan sedikit kebaikan.” (um/aep)
Komentar
Posting Komentar